Home Pustaka ATB Berita & Peristiwa Berita Terbaru Berilah Hambamu Air dan Listrik !

Berilah Hambamu Air dan Listrik !

E-mail Print
BP Kawasan Digoyang Demo
BATAM - Leni (30), Ayu (40) dan Novi (38), "Kartini" Baloi Kolam, terus bergoyang di depan ratusan warga lainnya. Di atas mobil pick up lengkap dengan pengeras suara di depan Kantor BP Kawasan (Otorita Batam), ketiga wanita itu terus bergoyang dan berteriak, Rabu (28/7).

“Mustofa, Mustofa. Berilah hambamu air, berilah hambamu listrik," teriak ketiga ibu rumah tangga itu memplesetkan bait Iwan Fals berjudul "Penguasa," yang dinyanyikan para pemuda di sebelahnya dengan menggunakan gitar dan pengeras suara.

Leni mengaku sudah 16 tahun tinggal di Ruli Baloi Kolam. Namun selama belasan tahun itu, Leni suaminya bernasib sama bersama sekitar sekitar 400 kepala keluarga lainnya.

"Kami tak bisa menikmati air bersih selama 16 tahun, kami hanya menggunakan air sumur," keluh Leni yang mengikatkan kain warna merah di kepalannya.

Ayu, bersama suami, juga mengakui keterpurukan tanpa air dan listrik selama 10 tahun tinggal di lokasi itu. Sumur yang merupakan sumber air kebutuhan bagi warga, pun hanya bisa dinikmati ketika hujan turun. “Kalau pas musim kemarau, kami menggunakan air sumur yang warnanya macam besi. Untung saja (tubuh) kami tak kayak besi," Ayu pun mengeluh. “Yang kami lakukan ini demi anak-anak kami. Masa banyak orang di Batam, kami yang dikucilkan sendiri sahut Novi," lirih.

Ratusan orang pendemo lainnya memilih menyebar. Puluhan demonstran memilih berdiri di sekitar pick up tempat orasi sambil berteriak-teriak. Sebagian lainnya, memilih duduk-duduk di bundaran OB

“Kita berdoa bersama. Semoga Pak Mustofa dan kru-krunya (pegawai) yang setuju pemasangan air dan listrik, dimudahkan rezekinya. Yang tidak setuju mudah-mudahan distrokkan agar tak bisa menikmati air dan listrik,’ teriak seorang pria dengan pengeras Suara yang disambut kata, amin ratusan demonstran.

Sempat Ricuh
Awalnya, demo yang digelar sejak pukul 08.30 itu sempat ricuh. Ratusan demonstran sempat saling dorong dengan pagar hidup aparat kepolisian yang menjaga pintu gerbang masuk ke Kantor OB. Namun kericuhan itu tak berjalan lama setelah perwakilan para pendemo dipersilahkan masuk.

Uba Ingan Sigalingging, Ketua Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak), bersama beberapa tokoh masyarakat Baloi Kolam, pun masuk tertib. Tak lama kemudian, kericuhan kembali terjadi. Hal itu ketika Uba bersama perwakilan pendemo keluar ruang pertemuan lantaran tidak diperkenankannya para wartawan meliput pertemuan itu.

Kericuhan sempat memuncak ketika beberapa pendemo memaksa menerobos masuk pagar yang dijaga polisi. Beruntung kericuhan itu segera bisa diredam setelah disepakati diperbolehkannya para kuli tinta menyaksikan angsung pertemuan itu.

Mustofa, Ketua BP Kawasan (BP) yang menemui langsung para perwakilan mengatakan rumah yang berdiri di kawasan Baloi Kolam yang dihuni sekitar 4000 kepala keluarga itu merupakan rumah liar. Untuk itu, Mustofa menegaskan pihaknya akan mempelajari secara keseluruhan mengenai ketentuan-ketentuan dan kemungkinan penyaluran listrik dan air.

‘Untuk sementara pakai tangki-tangki (OB) dulu," ujar Mustofa.

Setelah pembicaraan, Uba menegaskan pihaknya ogah menerima jawaban secara lisan. Uba mendesak agar OB memberikan jawaban tertulis sebagai kekuatan legalitas yang akan dijadikan kekuatan jika harus melakukan perlawanan selanjutnya.

“Rabu depan OB harus memberikan jawaban tertulis. Kita akan demo lagi hari Rabu demi jawaban itu,’ tegas Uba.

Demo yang dilakukan ratusan demonstran warga Baloj Kolarn, mendapat dukungan Udin P. Sihaloho (Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam. Udin yang pernah tinggal di Baloi Kolam mengaku merasa kesengsaraan masyarakat setempat tanpa adanya air dan listrik.

Tanpa bermaksud melegalkan ruli, agar OB, Pemerintah, ATB dan PLN mencarikan solusi terbaik. Anggota Fraksi PDIP itu mencontohkan baik ATB maupun PLN bisa memasang satu meteran listrik dan air untuk satu RT.

"Tinggal berikan batasan pemakaian saja. Misalnya listrik satu rumah cukup dua ampere. Berikan breaker, kalau melebihi pemakaian itu listrik otomatis mati. Artinya, warga yang membandel akan susah sendiri," papar Udin.

"Itu akan lebih menghemat pengeluaran warga yang rata-rata kurang mampu, daripada harus membayar listrik jenset 200 ribu per bulan. Dengan cara itu juga rnasyarakat lebih baik karena bisa menikmati listrik 24 jam. lngatlah anak-anak mereka yang merupakan penerus bangsa ini kelak," pesan Udin. (sumber : posmetro edisi kamis 29 juli 2010/for)
Last Updated ( Monday, 16 August 2010 03:25 )  

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini13
mod_vvisit_counterKemarin120
mod_vvisit_counterMinggu ini133
mod_vvisit_counterMinggu lalu1160
mod_vvisit_counterBulan Ini862
mod_vvisit_counterBulan lalu5106
mod_vvisit_counterSepanjang hari44267

Online (20 menit lalu): 4
Anda mengakses dengan IP: 38.107.191.93
,
Hari ini: Sep 06, 2010