Adhya Tirta Batam

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French Russian Spanish

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel

Berita dan Peristiwa

Profil: Benny Andrianto, VP ATB

PT. ADHYA TIRTA BATAM (ATB), perusahhan air minum yang beroperasi di Pulau Batam, disebut-sebut sebagai perusahaan air minum terbaik di Indonesia saat ini, sekaligus operator swasta yang dinilai sukses melaksanakan kontrak konsesi dengan pemerintah.

IR. Benny Andrianto, M.M. duduk sebagai Vice President ATB, mewakili perusahaan induknya, PT. Bangun Cipta Kontraktor yang yang memiliki setengah saham ATB.  Visi Benny yang tertuang dalam visi ATB yaitu menjadikan ATB sebagai perusahaan air minum terpercaya, antara lain dengan mengembangkan corporate culture ATB melalui sejumlah core values.

Benny yang juga menjabat ketua PERPAMSI DPD Riau dan Kepulauan Riau sejak setahun terakhir, adalah sahabat bagi banyak orang dari berbagai kalangan, karena pribadinya yang ramah dan mudah bergaul. Di sela-sela kegiatan pekan Pekan Olahraga PERPAMSI di Bali, Juli 2011, Benny berbincang-bincang santai dengan Majalah Air Minum. Berikut petikannya.

-Bagaimana awal mula anda terjun ke dunia air minum?

Saya lulusan Teknik Sipil, cita-cita saya sebenarnya bekerja di proyek. Awalnya saya bekerja di perusahaan kontraktor, yaitu pemegang saham ATB, PT. Bangun Cipta Kontraktor (BCK). Sejak tahun 1990 saya bekerja membangun infrastruktur di Batam, pelabuhan, bandara, jembatan, dam, WTP, segala macam. Tahun 1999, saya ditawari oleh BCK untuk bekerja di ATB. Tapi saya kurang tertarik, karena ketika itu menganggap bekrja di perusahaan air minum tidak ada dinamika. Maaf ya, kurang prestite. Lagipula saya orang proyek, bukan orang kantoran, jadi saya tidak tertarik.

Tahun 2000, saya ditawari lagi. BCK punya saham yang cukup besar di ATB tapi tidak punya wakil di ATB. Jadi saya diminta menjadi wakil BCK di ATB. Atasan saya di BCK bilang kalau saya tidak cocok, silakan bilang lagi ke konstruksi. kenapa tidak? Barangkali saya mendapatkan sesuatu yang baru.

-Bagaimana anda mempelajari bidang air minum?

Saya tidak punya background sama sekali di dunia air.  Nol besar.  Tapi karena Direktur di ATB ketika itu cuma satu, saya ditanya mau jadi direktur apa? Karena saya insinyur, saya bikin divisi engineering Director. Tahun pertama, saya mencoba membenahi bukan dari sisi core bisiness air yaitu produksi dan distribusi tetapi dari sisi penunjangannya, misalnya bagaimana membuat proyek yang efisien.

Tahun berikutnya saya mulai melihat hal-hal lain yang perlu di efisienkan, yaitu kebocoran, kemudian juga efisiensi di bidang produksi misalnya pemakaian bahan kimia dan energi listrik. Tahun pertama itu juga saya ikut Pelantihan Manajemen Air Minum YPTD Tingkat Utama, sembari membuka jaringan, berkenalan dengan orang-orang dari dunia air minum, dari PDAM-PDAM lain. Itu adaptasi saya yang pertama, sehingga saya kenal pak Budi (Sutjahjo) pak Kumala, pak Benny Chatib (almarhum), pak Purwoko (Hadi).

-Anda tampak menonjol di ATB, memperlihatkan bahwa posisi pemegang saham lokal harus setara dengan pemegang saham asing. Mengapa demikian?

Saya melihat secara umum, tolong dikoreksi kalau saya salah, bangsa kita ini tidak PD (percaya diri) kalau ketemu bangsa asing. Kalau sudah ketemu bangsa asing "ia pak, ia pak". Mereka ngomong salah tetap saja "ia pak".

Rasa percaya diri itu dibangun by process.Kita bekerja sama dengan asing, as partner, as join operation, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kita tidak boleh inferior. Apalagi saham di perusahaan fifty-fifty. Kita harus punya hak dan kewajiban yang sama.

Posisi President Director dan Vice President bukan berarti yang satu tinggi yang satu lebih rendah, tapi hanya representasi pemegang saham. Yang penting adalah kesetaraan, sehingga tidak ada rasa diskriminasi. Transparansi, accountable, fairness, itu ditegakkan.

Untuk bisa setara, yang dibutuhkan adalah profesionalisme. Kalau anda memang profesional, anda berhak untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Setelah anda profesional, yang dibutuhkan adalah mental untuk punya rasa percaya diri. Kita harus membiasakan diri masuk ke lingkungan yang profesional.

-Apa pendapat anda tentan krisis kepemimpinan yang sering terjadi di PDAM?

Yang utama adalah knowledge. Kalau anda tidak tahu, maka anda tidak bisa melakukan. Problemnya, di PDAM itu kadang-kadang yang duduk disana bukan orang yang punya knowledge. Karyawan punya knowledge tapi, atasan tidak, mau dibawa kemana perahunya?

Kalau atasan sudah mengarah yang salah, bawahan jalan ke arah yang salah. karena itu soal skala prioritas, bicara strategi, tentang visi. Yang punya siapa? Atasan. kalau atasan tidak punya visi, tidak punya wawasan, tidak punya knowledge, dia tidak bisa mengarah kejalan yang benar. Akhirnya, bawahan meskipun punya kemampuan, layu sebelum berkembang.

Peran dari seorang pemimpin untuk menentukan visi misi dan target yang harus dikejar menjadi kunci keberhasilan sebuah perusahaan, siapapun dia, swasta atau bukan. Anda punya anak buah sepandai apapun, tidak bisa memberikan nilai optimal kalau atasannya tidak memberi jalan kesana.

-Apa pendapat anda tentang peran swasta dalam pengelolaan air minum di Indonesia?

Masuknya perusahaan swasta dalam sektor pelayanan publik saat ini masih belum bisa diterima seratus persen. Mengapa? karena asumsi bahwa swasta itu "merebut" porsi peran pemerintah.

Dalam banyak kasus perusahaan public yang dikerjasamakan dengan swasta, tidak hanya di sektor air minum, pemerintah dan masyarakat merasa tidak mendapatkan benefit. Swasta dinilai hanya mencari uang, profit oriented. Sedangkan kontribusinya kepada pemerintah dan masyarakat dirasa kurang. Ini yang  menyebabkan image swasta itu tidak baik.

Profit bagi perusahaan swasta adalah wajib. Jangan pernah bilang bahwa perusahaan swasta tidak cari profit. tetapi memberikan keseimbangan take and give,  antara hak dan kewajiban, adalah salah satu kunci utama agar hubungan kerja sama antara pemerintah dan swasta  dapat berjalan dengan sempurna. Banyak yang memikirkan haknya.  Ini yang menyebabkan image kerja sama dengan swasta tidak  menguntungkan.

Tidak demikian dengan ATB. kami ingin membuktikan lain. Barangkali, moga-moga tidak salah, kami adalah salah satu operator swasta yang berhasil memuaskan pemerintah. kami memegang konsesi pengolahan pelayanan air minum di Batam, dan pada saatnya utilitas ini akan dikembalikan kepada pemerintah  dalam kondisi yang sebaik-baiknya.

Perlu juga diluruskan bahwa kerja sama dengan swasta bukan berarti swastanisasi. swastanisasi adalah perusahaan publik dijadikan perusahaan swasta. Sedangkan kerja sama dengan swasta dapat berupa konsesi selama sekian tahun, yang kemudian dikembalikan kepada pemerintah sebagai pemilik.

Logikanya, kalau perusahaan air minumnya sehat kenapa harus dikonsesikan?adi kalau perusahaan sakit disehatkan, setelah sehat dikembalikan, hal ini (kerja sama dengan swasta, Red) seharusnya bisa diterima dengan senang hati.

Konsesi itu pun hanya salah satu cara. Bentuk kerja sama dengan swasta kan banyak, bisa BOT, BOO.., macam-macam. kuncinya , pilihlah bentuk kerja sama yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Tidak perlu konsesi atou BOT yang paling tepat.

Yang ingin saya simpulkan, pertama jangan alergi melibatkan swasta, dalam bentuk kerja sama, bukan swastanisasi, karena air (kepemilikannya, Red.) tidak boleh diserahkan kepada swasta. Yang kedua, supaya pemerintah dan masyarakat tidak dirugikan dikemudian hari, yang paling penting adalah platform kerja sama yang disiapkan dengan hati-hati dan sematang mungkin.

Libatkan pakar. Jangan sampai pemerintah dalam era otonomi sekarang ini membuat kontak kerja sama yang merugikan diri sendiri karena tidak hati-hati. Pilihlah pihak swasta yang betul-betul berdedikasi dan mau berimbang dalam hak dan kewajiban. Itu memang tidak gampang.

Saya sepakat, swasta memang harus profit oriented. Tapi itikad baik harus datang dari semua pihak, swasta maupun pemerintah. Kedua belah pihak mendapat nikmat yang sama. Peran PERPAMSI memberikan pengayoman, bantuan wawasan. PDAM atau pemerintah daerah jangan sungkan-sungkan berkonsultasi dengan PERPAMSI.

-Di luar semua itu, ada faktor politik yang juga menentukan. Komentar anda?

Harus ada political will dari pemerintah. Tolong disadari, semua yang bisa kita lakukan dalam kerja sama, dasarnya adalah kontak. Kalau kemudian output-nya tidak sesuai harapan, pemerintah harus berani menegaskan politikal will. ini mau dikemanakan? Sederhananya, kalau sudah kadung berbuat salah, jangan dibiarkan sampai ke akhir konsesi.

Jangan menolerir kesalahan berlarut-larut. Kita ambil satu konsekuensinya, kita kompensasikan, kita perbaiki, selesai. Kalau kesalahan ditolerir, dibiarkan berlarut-larut, tidak akan pernah ada perbaikan. harus berani mengoreksi, dengan segala konsekuensinya.

kalau masalah adalah masalah politik, tidak harus melibatkan swasta, ya harus dibebaskan dari ketrlibatan pihak-pihak yang mengganggu. jadi harus bisa objektif, apa sebenarnya masalahnya, baru dipilih obatnya yang sesuai. Orang sakit kepala kan obatnya tidak harus parasetamol. Orang sakit kepala karena perutnya lapar, tidak usah dikasih parasetamol, disuruh makan, selesai. Orang sakit demam berdarah, sakit kepala karena demam tinggi, tidak sembuh juga kalau dikasih parasetamol.

Swasta itu boleh terlibat untuk hal-hal yang memang diperlukan. Ada dua hal, pertama, sesuai dengan bidang keahliannya. Kedua, sesuai waktu yang diberikan. Bisa part time, intermediete term, bisa long term, bisa short term.

Tidak kalah penting, jangan lupa harus ada yang namanya "kontrol". Meskipun tidak membelenggu dalam kerja sama, swasta perlu dikasih ruang untuk bergerak. ada batas kiri, batas kanan, atas, bawah, dia bisa gulung-gulung disitu.

Ketika dia menabrak dinding kiri, kanan, misalnya, dia harus minta izin. Jadi kuncinya itu tidak unlimited, tidak tanpa batas. Harus ada aturan dan badan yang mengontrol sehingga si swasta tidak semau gue. Di dalam perjanjian, itu salah satu bagian yang penting.

-Apa yang terjadi di Batam?

Di Batam itu (pelayanan air minum) dikonsesikan karena kita tahu Batam adalah daerah tujuan investasi. Pak Habibie, dulu tahun 1990-an, ingin mengmbangkan Batam menjadi daerah tujuan investasi. Salah satu syarat untuk mendorong investor masuk adalah dukungan infrastruktur : listrik, air, jalan, bandara, pelabuhan, dsb.

Untuk pelayanan air, dari sisi teknis Otorita Batam mapmpu mewujudkannya. tapi dari sisi pendanaan mereka dituntut untuk berinvestasi dibidang lain. Maka dipersilakan kepada swasta.

ATB tidak merecoki Otorita Batam untuk investasi. Investasi ATB sudah mencapai RP 615 miliar. Sekarang malah pemerintah menarik manfaat yang besar. Yang sudah dikembalikan kepada pemerintah melalui setoran pajak. royalti, pembayaran air baku, dsb, sedah RP 350 milyar. Sedangkan investornya belum menikmati sebesar itu. Jadi yang diuntungkan adalah pemerintah dan masyarakat. Inilah kontrak yang berhasil.

Tapi apakah investor dirugikan? Tidak. karena kami dijamin oleh IRR (Internal Rate of Return atau alat untuk mengukurtingkat pengembalian modal investor).

-Bisa anda jelaskan visi anda untuk ATB?

ATB mempunyai visi menjadi perusahaan air minum terpercaya di Indonesia. Kata "Terpercaya" itu lebih daripada sekedar menjadi yang terbaik. Untuk bisa menjadi terpercaya itu harus baik dulu. baik saja tidak cukup. kalau baiknya cuma setahun, besok tahun kedua sudah jelek, itu berarti tidak bisa dipercaya. Jadi baik itu harus dipertahankan untuk kurun waktu yang panjang.

Visi itu kita jabarkan dalam misi antara lain ATB menjadi benchmark atau tolak ukur bagi perusahaan air minum  di Indonesia. Kami sudah melakukan apa yang kami anggap terbaik. Maka, kami perlu memperkenalkan ATB kepada pihak luar. Pertama saya buat program "Batam Awareness" pada tahun 2009. Tahun 2011-2011 saya buat  "National Awareness".

Saya jadi ketua PERPAMSI DPD Riau dan Kepri itu salah satu jalannya. Kami juga membuat training center bidang produksi bekerja sama dengan YPTD untuk PDAM-PDAM lain.

Supaya tetap benchmark, di bidang SDM, saya juga punya pemikiran untuk menjembatani Key Performance Indicator (KPI) dengan mekanisme sistem informasi, sehingga ketergantungan pada manusia bisa dikurangi. Saya tidak bilang kita tidak perlu tergantung pada manusia. Tetapi kita memasukkan unsur teknologi.

Kami mengembangkan sistem informasi di ATB agar kinerja ATB bisa tetap menjadi yang terbaik, sehingga kami layak menjadi benchmark.

Kesadaran untuk melihat kedepan menjadi penting. Kadang-kadang ketika perusahaan sudah dalam posisi nyaman, kita tidak mau berubah. Perubahan dianggap sebagai masalah. Padahal kita tau, dalam hidup ini, tidak ada yang kekal, kecuali justru perubahan itu sendiri. Kita harus terus berubah menjadi lebih baik. Lebih gampang menjadi baik daripada mempertahankan terap baik.

Itulah yang kita upayakan, jangan sampai perusahaan managed by person. Ketika kita ada di ATB, baik. Ketika kita pindah, hancur. itu sangat tidak kita inginkan. Kalau sudah managed by system. including information technology has already been involved, saya merasa siapapun yang menjalankan akan tetap baik. Keberlanjutan itulah yang pening.

-Bicara soal keberlanjutan, konsesi ATB di Batam akan berakhir pada tahun 2020. Komentar Anda?

Kalau saya berkomentar sebagai pemegang saham, tidak ada masalah karena ada jaminan tingkat pengembalian modal melalui IRR sebesar 26,6 persen. Dari sisi saya sebagai eksekutif, saya bertanggung jawab bahwa misi awal Otorita Batam menjalin kerja sama dengan swasta untuk membuat perusahaan air minum yang sehat, bisa mendukung invesrasi. Misi itu yang harus tetap saya pertahankan tercapai. It's doesn't matter siapa yang menjadi nakhodanya.

-Jadi, apakah perusahaan air minum ini nanti tetap ATB atau bukan, anda hanya ingin kinerjanya terbaik dan sustanable?

Betul. Itu sebabnya misi kita benchmark, sampai kapanpun, bahkan sampai diserahkan kepada pemerintah, kita tetap menjadi benchmark. Sustainability is gonna be very important.

-Anda bisa memprediksi, setelah konsesi dengan ATB berakhir apakah pengelolaan pelayanan air minum di Batam dikembalikan kepada pemerintah (Otorita Batam), misalnya menjadi PDAM Batam, atau dikonsesikan lagi?

Hal itu tentunya sangat tergantung pada tingkat kepuasan si pemberi kerja, tergantung tingkat kepuasan (masyarakat) yang dilayani oleh ATB. Kalau mereka merasa nyaman dan puas dengan kami, mungkin tanpa minta pun kita akan di extend.

Orang yang sudah nyaman tentu tidak ingin dibuat tidak nyaman. Kalau pemerintah atau masyarakat merasa terancam dengan adanya ATB, bisa-bisa sebelum sampai akhir masa konsesi kita sudah dipecat.

Kita bicara branding. Kami tidak khawatir dengan akhir konsesi. Kami juga tidak ingin telalu optimis. Tetapi kami hanya ingin memberikan yang terbaik, mudah-mudahan semua puas.

-Menurut anda, apa saja kelemahan yang ada di ATB yang sekarang ini perlu diperbaiki?

Tidak ada gading yang tak retak. Yang pertama, saat ini ATB belum managed by system. Masih managed by person. Sehingga sewaktu-waktu terjadi perubahan struktur dan orang-orang yang meng-handle disana tidak capable, dengan mudah akan mempengaruhi kinerja. Kita saat ini dalam proses membangun sistem, belum in place. Moga-moga dalam waktu dua-tiga tahun kedepan sudah in place. Kami tidak pu nya masalah teknis yang berarti.

Uang kedua, mentalitas. Pada perusahaan yang sudah mapan, mulai mucul dampak arogansi. Kalau tidak kita manage dengan baik akan menjadi bumerang bagi perusahaan. Kita adalah perusahaan jasa, maka kita harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan kita. Kita tidak boleh sombong.

Di Batam, ATB adalah satu-satunya sumber air bagi masyarakat. Tidak ada sumber lain. Harus kita tata agar karyawan ATB tidak menjadi arogan. Mentalitas untuk bisa tetap disiplin dan bersih, karena kita swasta. Jangan sampai swasta identik dengan perusahaan publik. Jadi perusahaan yang baik itu sangat tergantung pada sistem dan SDM yang ada. (Sumber : Majalah Air Minum Perpamsi, edisi Juli 2011)
 
 ----------------------------------------------------------------------
Sang Negosiator

Benny Andrianto bergabung dengan ATB sejak Juli 2000 sebagai Engineering Director, mewakili PT Bangun Cipta Kontraktor, pemegang saham ATB. ia menjadi Vice President sejak April 2009, jabatan yang belum pernah ada sebelumnya di ATB.

Sebelum di ATB, dari tahun 1990-2000, Benny merintis karir di PT. Bangun Cipta Kontraktor, anak perusahaan Bangun Cipta Group, mulai sebagai Site Engineer (1990-1991), Deputy Project Manager (1991-1992), Project Manager (1992-1995) dan Batam Branch Manager (1995-2000).

Benny memimpin sejumlah proyek infrastruktur di pulau Batam dan Bintan, termasuk pembangunan waduk duriangkang, salah satu waduk muara terbesar di Indonesia. Ia lulus sarjana Teknik Sipil dari Universitas Gadjah Mada tahun 1989 dan meraih Magister Manajemen (konsentrasi Bidang Keuangan) dengan prediket Summa Cum Laude tahun 2008 dari Universitas yang sama.

Benny disebut-sebut oleh beberapa sumber di Batam sebagai seorang negosiator yang disegani. Pribadinya yang cerdas, bersahabat dan low profile, membuat kehadirannya relatif dapat diterima oleh semua kalangan dalam berbagai situasi, baik dengan orang-orang pemerintah, para legislator, wartawan, maupun aktivis LSM. Ia bahkan sering kali harus berhadapan langsung untuk bernegosiasi dengan para demonstran yang mengktritisi kinerja ATB.


"Gadget Freak"

"Biarkan hidup ini mengalir bagaikan air. Rasanya nggak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Tuhan selalu memelihara kita, dan senantiasa memberi kita yang terbaik. Lakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan, karena selebihnya tuhan yang mengaturnya."

Kata-kata yang beraroma religius itu tercantum di entri About me, akun Facebook Benny Andrianto. Ia sendiri mengaku jarang buka Facebook. Meski begitu, Benny adalah gadget freak (orang yang tergila-gila pada perangkat teknologi mutakhir). Ia tengah gandrung pada sistem operasi Android untuk smartphone besutan Google.

"Masa depan ada di tangan Android. We're gonna live in the clouds," komentarnya memprediksi trend ke depan. "Di handphone yang saya pakai ini, saya bisa memonitor karyawan saya apakah mereka ada di kantor atau tidak." katanya.

Ia selalu tertarik mengikuti perkembangan IT, tapi cukup selektif membeli perangkat yang fungsional sesuai kebutuhan dan gaya hidupnya. Itulah sebabnya ia tidak membeli blacberry dan iPhone karena  dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan.

Benny adalah suami dari seorang istri yang ia sebut sebagai happy home makers (pembuat suasana ceria di rumah). Ia ayah dari empat anak. yang tertua, pria 22 tahun, dan kedua, permpuan 21 tahun, kuliah di Singapore Institute of Management, singapura. Anak ketiga baru masuk SMP, Sedangkan yang keempat masih empat tahun.

Benny mahir bermain golf, sesekali memenagi turnamen. Ia juga hobi bersepeda. Di ATB ia membentuk klub sepeda yang rutin melakukan kegiatan "nggowes bareng". Benny juga gemar membaca buku-buku tentang manajemen dan pengembangan diri. Ia mengaku selalu ingin meggali filosofi hidup. "Bekerja tidak akan pernah maksimal kalau tidak punya filosofi hidup yang jelas," ujarnya.   (Sumber : Majalah Air Minum Perpamsi, edisi Juli 2011)

 
 
You are here: Home Berita Berita dan Peristiwa Profil: Benny Andrianto, VP ATB